![]() |
| Kampus UNP |
PADANG, senandungkabar.com – Rentetan insiden peluru nyasar yang berulang di lingkungan Universitas Negeri Padang (UNP) kembali memicu kekhawatiran serius. Pihak kampus mendesak agar lapangan tembak milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) di kawasan Lapai segera dievaluasi dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Desakan itu muncul setelah insiden terbaru pada Selasa (2/6/2026), ketika dua orang menjadi korban peluru nyasar di area Lapangan Gedung Rektorat UNP. Salah satu korban diketahui merupakan mahasiswa UNP yang mengalami luka akibat proyektil yang diduga berasal dari aktivitas latihan menembak.
Senior Eksekutif UNP, Profesor Ganefri, menilai keberadaan lapangan tembak di tengah kawasan perkotaan sudah tidak lagi relevan dan berpotensi membahayakan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kejadian serupa bukan pertama kali terjadi.
“Sudah saatnya lokasi lapangan tembak itu ditinjau ulang. Kejadian berulang menunjukkan ada persoalan serius yang harus diselesaikan. Kami berharap evaluasi yang dijanjikan benar-benar diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata,” ujar Ganefri, Kamis (4/6/2026).
Menurutnya, selama kurun waktu 2010 hingga sekarang, setidaknya tujuh insiden peluru nyasar telah terjadi di lingkungan kampus. Sebagian besar kejadian berlangsung di sekitar kawasan rektorat yang setiap hari dipadati mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum.
Ganefri mengungkapkan, berbagai komitmen peningkatan pengamanan yang pernah disampaikan pihak terkait belum mampu menghentikan terulangnya insiden serupa. Kondisi tersebut membuat kampus semakin cemas terhadap keselamatan sivitas akademika.
“Kami tidak ingin menunggu sampai ada korban jiwa. Keselamatan mahasiswa harus menjadi prioritas utama. Karena itu langkah konkret harus segera dilakukan,” tegasnya.
Posisi lapangan tembak yang berada sekitar 800 meter dari Gedung Rektorat UNP disebut menjadi salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian. Selain berada relatif dekat, arah lapangan tembak juga sejajar dengan kawasan kampus yang menjadi pusat aktivitas akademik.
Berulangnya kasus peluru nyasar juga dinilai berdampak pada citra kampus. Area alun-alun rektorat yang selama ini menjadi lokasi favorit mahasiswa untuk berfoto, terutama setelah sidang skripsi dan wisuda, kini dibayangi rasa khawatir.
UNP berharap evaluasi menyeluruh terhadap operasional lapangan tembak segera dilakukan, termasuk mempertimbangkan relokasi ke kawasan yang jauh dari permukiman dan fasilitas pendidikan.
“Kampus harus menjadi ruang yang aman untuk belajar dan beraktivitas. Jangan sampai insiden yang sama terus berulang tanpa solusi yang jelas,” tutup Ganefri.
